.quickedit{display:none;}

Halaman

It's not about mitos, but it's about the fact

Sabtu, 23 November 2013

Keganjalan pada Bundaran HI

Bundaran HI (Hotel Indonesia) adalah salah satu nama yang cukup terkenal bagi masyarakat Jakarta khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya. Penduduk Jakarta pastinya pernah melewati Bundaran HI, bukan? Icon yang menjadi simbol kedua, Kota Jakarta, setelah icon Monas (Monumen Nasional) ini, ternyata memiliki arti yang belum banyak diketahui oleh penduduk Jakarta sendiri. Jika diperhatikan, sepertinya ada keganjalan pada simbol Bundaran HI ini. Dan hal ini menjadi sebuah tanda tanya besar. Seakan Indonesia, negara yang kita cintai ini telah dikuasai oleh suatu makhluk tersembunyi yang sangat menakutkan dan kita sendiri bahkan tidak pernah merasakannya!
Semua orang yang ada di Jakarta, sudah pasti tahu dengan monumen kolam air mancur ini. Presiden Soekarno, pada tahun 1960-an, pernah memerintahkan untuk membangun beberapa proyek konstruksi demi mempercantik Kota Jakarta dalam persiapan Asean Games ke IV. Termasuk diantaranya adalah pembangunan Kompleks Olahraga Ikada (Gelora Bung Karno) yang biasa disebut dengan GBK, dan beberapa patung lainnya termasuk monumen Selamat Datang yang dikenal sebagai Tugu Selamat Datang. Monumen Selamat Datang ini terletak tepat di tengah-tengah Bundaran HI. Disebut demikian karena Bundarah HI ini berdekatan dengan Hotel Indonesia. Bundaran yang berada di pusat jantung kota Jakarta ini, tepat pula berada di tengah-tengah beberapa jalan utama di Jakarta. Bahkan pada zaman VOC, pintu gerbang Menteng sendiri berada di seputaran Gondangdia, Masjid Cut Mutiah sekarang. Namun pada masa Orde Baru, pintu gerbangnya ‘dipindahkan’ dan bukan lagi di sebelah utara, akan tetapi di sebelah baratnya., yaitu Bundaran Hotel Indonesia.
Selesai dibangun, Hotel Indonesia dan Bundaran HI menjadi pintu gerbang bagi para pengunjung Jakarta. Bundaran itu merupakan sebuah kolam bulat yang dilengkapi dengan air mancur. Sepintas kolam ini memang tampak seperti kolam yang ada pada umumnya, yaitu berbentuk bulat dengan air mancur yang ada di dalamnya. Lalu apa yang menjadi keganjalan pada kolam yang menjadi icon Kota Jakarta ini?
Percaya atau tidak bahwa sebenarnya BUNDARAN HI ADALAH SALAH SATU LAMBANG ILUMINATI.
Coba perhatikan gambar-gambar berikut ini :




                Sudah cukup jelas, bukan? Lantas apa yang terlihat di sana? Sekali lagi, gambar ini pasti mengingatkan kita akan sesuatu. Apa itu? MATA HORUS! Mata Horus merupakan simbol iluminati atau Freemason. Siapa lagi di dunia ini yang memakai simbol-simbol seperti itu selain mereka? Lalu kenapa simbol tersebut terdapat pada Bundaran HI?
          Yang jelas hal ini membuktikan, bahwa bukan hanya di Amerika saja para Freemason ini membangun gedung-gedung infrastruktur kota, akan tetapi mereka pun sudah membangun sesuatu di Indonesia. Bukti ini dapat dijadikan sebagai acuan, bahwa mereka sebenarnya sudah pernah eksis pada zaman dahulu di Indonesia, dan bukan tidak mungkin sampai sekarang mereka pun masih berkeliaran di Indonesia. Mengapa? Ini terbukti dengan keganjilan yang ada pada mata uang Rp 10.000,-
Sedikit sebagai tambahan informasi seputar Budaran HI ini. Pada pasca zaman pemerintahan Soeharto, Bundaran HI kerap kali dijadikan sebagai panggung demonstrasi oleh berbagai elemen massa untuk berbagai kepentingan. Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, kala itu mencanangkan gerakan rehabilitasi, di mana bertujuan agar Jakarta kembali menjadi kota yang rapi dan cantik, seperti Ibukota negara lainnya. Salah satu proyeknya, di tahun 2001, ialah merehabilitasi Bundaran HI, lengkap dengan air mancur dan patung Tugu Selamat Datangnya, agar kembali menjadi salah satu icon Jakarta yang cantik selain Monas.
Namun anehnya, program rehabilitasi air mancur itu bernuansa Luciferistik “CAHAYA”, yakni “Membangun Kebanggaan Nasional Melalui Pencahayaan”. Entah kebetulan atau tidak, kontraktor yang ditunjuk pun General Electric (GE). GE dalam hal ini merupakan perusahaan yang juga bertanggungjawab atas tata cahaya Patung Liberty di Washington DC dan Chain Bridge di Hongaria. Di Jawa Tengah pun, GE pula yang menangani tata cahaya yang terdapat di Candi Prambanan. Professor Nick Turse dalam “The Complex” (2009) menulis, “GE adalah salah satu perusahaan Amerika yang dekat dengan industri perang Pentagon. Sejak tahun 1957 hingga 1961, GE bahkan termasuk di dalam lima besar kontraktor militer Pentagon di samping General Dynamics, Boeing, Lockheed, dan North American Aviation. Sejak 2006, GE telah meluncur turun ke urutan empat belas terbesar. Walau demikian, nila laba yang diperoleh GE di tahun itu masih sangat besar, tidak kurang dari $ 2,3 miliar dari Departemen Pertahanan AS, dengan mengerjakan sistem persenjataan untuk Helikopter tempur Hawk UH-60 dan pesawat multiguna F/A-18 Hornet. Keduanya digunakan di Irak.” Tema “CAHAYA” dalam proyek rehab Bundaran HI yang dikerjakan oleh GE itu, dalam bahasa latin disebut dengan nama “Lucifer”.
Misteri demi misteri silih berganti bergulir di sekitar kita. Dan tanpa disadari, semua yang ada di di dalam kehidupan ini menyimpan banyak misteri. Ada yang terjawab dan tentu banyak sekali yang menyisakan tanda tanya besar. Bukti bahwa berpikir skeptis sangat diperlukan dengan apa yang di lihat, dengar, dan rasakan.

Sekian dan terima kasih. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar